PENDAHULUAN TENTANG START UP
POIN PEMBAHASAN MATERI :
1.
Sejarah
2.
Pengertian
3.
Karakteristik
Start up di indonesia
4.
Perkembangan
start up di Indonesia
5.
Faktor
Kesuksesan Start up di Indonesia
6.
Ciri-ciri
perusahaan start up
7.
Perbedaan
start up dan usaha kecil
8.
Perbedaan
start up dan perusahaan konvensional
Di
zaman yang sudah serba modern ini, kamu pasti sering mendengar istilah
perusahaan rintisan. Badan usaha yang dikenal dengan startup ini adalah jenis
perusahaan yang tengah berkembang di Indonesia.
Bahkan,
menurut Kemenristek, lewat skema Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT)
dan Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPBT), jumlah perusahaan ini
selalu meningkat setiap tahunnya di Indonesia.
Awalnya,
jenis badan usaha tersebut berjumlah 52 di tahun 2015. Jumlah itu kemudian
mengalami peningkatan menjadi 956 di tahun 2018.Melihat data statistik di atas,
tipe perusahaan seperti ini dinilai memiliki peluang yang besar untuk menjadi
pilar ekonomi masyarakat Indonesia
Sejarah
Start Up
Istilah
Start-Up yang diartikan sebagai perusahaan baru yang sedang dikembangkan, mulai
berkembang akhir tahun 90an hingga tahun 2000, nyatanya istilah Start-up banyak
dikaitkan dengan segala yang berbau teknologi, web, internet dan yang
berhubungan dengan ranah tersebut.
Dalam
sejarahnya, istilah start-up sendiri mulai terkenal secara internasional pada
masa dot-com bubble (gelembung dot-com). Fenomena dot-com bubble atau
kadang-kadang disebut gelembung teknologi informasi adalah gelembung spekulasi
yang terjadi antara tahun 1998–2000 (berpuncak pada 10 Maret 2000 ketika NASDAQ
mencapai 5132,52 poin) ketika bursa saham di negara-negara industri mengalami
kenaikan nilai ekuitas secara tajam berkat pertumbuhan industri sektor Internet
dan bidang-bidang yang terkait. Pesatnya pertumbuhan Internet dimulai pada
tahun 1993 dan berlangsung hingga tahun 1990-an yang ditandai dengan teknologi
world wide web yang semakin maju setelah dirilisnya versi pertama penjelajah
web Mosaic. Periode gelembung dot-com ditandai oleh didirikannya (dan berakhir
dengan kegagalan usaha) perusahaan-perusahaan baru di bidang situs-situs
Internet yang disebut perusahaan dot-com. Pemilik perusahaan mengalami kenaikan
tajam pada harga saham dengan hanya menambah awalan “e-“ atau akhiran “.com”
pada nama perusahaan mereka. Praktik ini disebut salah seorang penulis sebagai
investasi prefix. Kombinasi dari meningkatnya harga saham secara cepat dan
kepercayaan pasar bahwa perusahaan-perusahaan tersebut akan untung pada masa
depan, spekulasi saham oleh individu, dan modal ventura yang dapat diperoleh
secara mudah membuat investor melupakan indikator tradisional seperti Rasio
P/E, dan lebih percaya terhadap kemajuan teknologi. Karena banyaknya perusahaan
yang membuka website pribadinya, makin banyak pula orang yang mengenal internet
sebagai ladang baru untuk memulai bisnisnya. Dan waktu itu pula lah, Startup
lahir dan berkembang. Namun menurut Ronald Widha dari TemanMacet.com, Start-up
tidak hanya perusahaan baru yang bersentuhan dengan teknologi, dunia maya, aplikasi
atau produk tetapi bisa juga mengenai jasa dan gerakan ekonomi rakyat akar
rumput yang bisa mandiri tanpa bantuan korporasi-korporasi yang lebih besar dan
mapan. Start-Up adalah perusahaan atau bisnis yang belum lama terbentuk.
Perusahaan ini biasanya masih dalam proses pengembangan dan riset untuk
menemukan pasar yang tepat. Saat ini ada banyak sekali start-up yang mulai
bermunculan dan menjamur.
Start-Up
bisnis, banyak yang mengartikan bahwa ini adalah sebuah sistem investasi bisnis
yang akan menggerakan bisnis secara otomatis. Namun start-up itu lebih condong
pada pembangunan sistem bisnis era digital yang mana mengkaitkan dengan dunia
online. Contohnya seperti Google dan Facebook yang menghidupi dunia online.
Bisa dikatakan bahwa Google adalah start-up yang tersukses dalam search engine.
Sedangkan Facebook adalah start-up yang paling sukses dalam hal social network
(SNS).
Pengertian
Start-Up
Paul
Graham (dalam Cahyadi, 2014, tanpa hlm.) mendefinisikan “a start-up is a
company designed to grow fast. The olny essential thing is growth. Everything
else we associate with start-ups follows from growth”. Maksudnya adalah sebuah
start-up adalah perusahaan yang dirancang untuk tumbuh dengan cepat. Satu-
satunya hal yang esensial adalah pertumbuhan. Semua hal lain yang kami kaitkan
dengan para pemula mengikuti pertumbuhan.
Start-Up
juga diambil dari bahasa Inggris yang memiliki arti tindakan atau proses
memulai sebuah organisasi baru. Sedangkan bisnis start-up sendiri menurut
Google adalah ‘sebuah usaha kewirausahaan atau bisnis inovatif dalam bentuk
perusahaan. Sederhannya, start-up adalah sebuah bisnis rintisan. Istilah ini
mulai dikenal setelah era internet. Faktornya ini adalah karena banyak
perusahaan yang dimulai dari nol oleh satu atau beberapa orang saja kemudian
menjadi besar.
Kaskus
adalah salah satu jenis contohnya. Perusahaan ini didirikan oleh dua orang
kemudian perusahaan ini menjadi besar dan tidak lagi jadi start-up. Contoh
lainnya adalah Tokopedia yang awalnya didirikan oleh William Tanuwijaya dan
rekannya Leontinus Alpha Edison. Tokopedia dimulai dari nol sampai kemudian
menjadi besar karena mendapatkan investor. Perusahan start-up lainnya adalah
Ruangguru.com, TIket.com, Bukalapak.com, Go-Jek yang sedang populer, dan masih
banyak start-up lainnya.Perusahaan-perusahaan tersebut cukup sukses dan
mendapatkan banyak pendanaan dari investor. Istilah sartrup sendiri sebenarnya
baru populer ketika banyak perusahaan yang menggunakan domain .com bermunculan.
Fenomena ini disebut sebagai buble dot-com, sebuah fenomena ketika banyak
perusahaan punya situs pribadinya.
Pada
intinya, start-up adalah sebuah langkah dalam menghasilkan sesuatu yang baru.
Menurut Mudo (2015) dalam artikelnya menyebutkan, “Bisnis start-up adalah suatu
bisnis yang baru berkembang. Namun, bisnis start-up ini lebih identik bisnis
yang berbau teknologi, web, internet dan yang berhubungan dengan ranah
tersebut”. Sedangkan menurut Kurniarti (2017) dalam Jurnalnya menyebutkan bahwa
Start-up adalah sebuah institusi yang diciptakan untuk membuat produk atau
layanan baru dan inovatif dalam sebuah kondisi ketidakpastian yang tinggi.
Dari
penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Start-Up adalah sebuah upaya
pembentukan organisasi berbentuk perusahaan baru dalam bidang bisnis berbasis
teknologi jaringan atau web dengan menghasilkan suatu produk yang inovatif.
Karakteristik
Start-Up di Indonesia
Sebuah
perusahaan disebut start-up adalah ketika perusahaan tersebut masih dalam tahap
berkembang. Perusahaan tersebut belum memiliki dana besar dan hanya dijalankan
oleh beberapa orang. Sebaga contoh, Tokopedia awalnya adalah sebuah start-up
ecommerce dengan platform situs marketplace. Tokopedia bersaing dengan banyak
perusahaan e-commerce lainnya. Lazada contohnya. Hanya saja Lazada bukanlah
start-up. Lazada hadir sebagai perusahaan raksasa yang langsung didanai dengan
dana besar. Elevania juga contoh lainnya. Jika Lazada bergerak di bidang toko
retail, maka Elevania memiliki karakteristik seperti Tokopedia. Situs ini bukan
starup karena didanai oleh XL Axiata dan situs yang langsung memiliki dana
besar.
Banyak
karakteristik dari start-up yang dapat kita ambil. Beberapa karakteristik
perusahaan Start-up tersebut diantaranya (Syauqi, Tanpa Tahun, hlm. 1):
1.
Usia
perusahaan kurang dari 3 tahun, artinya masih dalam tahap awal suatu perusahaan
digital.
2.
Jumlah
pegawai kurang dari 20 orang, pada awalnya tentu start-up hanya memiliki
segelintir orang saja dibalik berdirinya perusahaan.
3.
Pendapatan
kurang dari $100.000/tahun, belum banyak keuntungan yang didapatkan karena
masih dibutuhkan biaya untuk pengembangan start-up.
4.
Masih dalam
tahap perkembangan.
5.
Umumnya
bergerak dalam bidang teknologi, penggunaan aplikasi merupakan salah satu
contohnya.
6.
Produk yang
dibuat berupa umumnya aplikasi dalam bentuk digital atau yang lainnya
7.
Biasanya
beroperasi melalui website ataupun media sosial
Dari
beberapa karakteristik diatas terlihat bahwa start-up lebih condong ke
perusahaan yang bergerak di bidang teknologi dan informasi. Namun faktanya
memang seperti itu, kini perkembangan perusahaan yang diberi nama Start-up
adalah perusahaan yang berkenaan dengan dunia teknologi dan informasi
Perkembangan
Start-Up di Indonesia
Di
Negara Indonesia sendiri penggunaan istilah Start-Up sudah digunakan sekitar
sejak tahun 2000-an dan banyak start-up yang dihasilkan oleh pemuda Indonesia
dan masih bertahan sampai sekarang. Indonesia menjadi salah satu pasar yang
menarik perhatian para pengusaha start-up.
Menurut
Amalia (2017) menyatakan menurut riset yang dilakukan pada tahun 2017, tercatat
bahwa pengguna internet di Indonesia telah mencapai 133 Miliar pengguna, dan
tentunya bertambah setiap tahunnya. Menurutnya, bisnis start-up di Indonesia
paling banyak diminati adalah dalam jenis game atau permainan serta aplikasi
edukasi, dan ada beberapa faktor pendukung dalam berkembangnya industri
start-up di Indonesia yaitu:
1.
Masyarakat
Indonesia yang mayoritas terbuka dengan teknologi baru, terbukti dengan
tercatatnya pengguna internet yang mencapai 133 miliar pengguna dari sekitar
250 miliar penduduk di Indonesia.
2.
Jumlah
penduduk yang banyak, yaitu sekitar 250 miliar warga Negara Indonesia
menjadikannya sebagai pasar yang besar bagi perusahaan- perusahaan start-up.
3.
Pelayaan
start-up yang baik, tentunya dengan pelayanan yang baik maka konsumen pun
merasa puas dalam menggunakan dan mengkonsumsi start- up tersebut.
4.
Modal dari
investor serta dukungan pemerintah, Tanpa modal, maka bisnis apapun tak kan
bisa berkembang. Dukungan dari pemerintah pun menjadi penentu berkembangnya
sebuah start-up, jika pemerintah tidak mendukung maka start-up sangat sulit
untuk berkembang.
Sejak
tahun 2001 hingga sekarang, sebenarnya banyak para pengembang aplikasi start-up
dari pemuda Indonesia, namun kebayanakan dari mereka tidak dapat bertahan lama
karena kalah bersaing dengan start-up dari perusahaan yang merekrut tenaga
asing dalam mengelola sistem start-up tersebut. Salah satu start- up yang
berhasil bersaing yaitu BukaLapak.
Menurut
Kemps, Vice President Sequola Capital, (dalam Pratama, 2017) menyebutkan bahwa
salah satu kekurangan yang dimiliki oleh Indonesia dalam mengembangkan start-up
adalah kurangnya developer-developer atau para pengembangan aplikasi yang
berkualitas.
Faktor-Faktor
Kesuksesan Start-up
Sebuah
bisnis start-up memang pada awalnya dirasa sulit untuk bisa sukses. Membutuhkan
waktu yang lama untuk bisa mengembangkan usaha dan mencapai sebuah kesuksesan.
Rata–rata 9 dari 10 bisnis start-up akan keluar dari zona nyaman bisnisnya, dan
sisanya yang mampu bertahan dan berhasil dengan orang– orang yang memiliki
kualitas terbaik. Ada alasan tertentu mengapa sebuah bisnis start-up mampu
tumbuh dan sukses.
Berikut ini adalah
11 alasan mengapa sebuah bisnis startip bisa sukses.
1.
Visi
Sebuah perusahaan akan mampu tumbuh dan
berkembang jika mereka memiliki visi yang kuat. Sebuah visi terkadang
diciptakan dengan tujuan untuk memacu semangat bagi sebuah perusahaan. Ketika
Anda membuat atau menentukan visi dari perusahaan Anda, jangan takut untuk
memiliki sebuah visi yang besar. Hal ini secara otomatis akan memacu semangat
dan tentu saja kinerja dari perusahaan Anda. Bagi sebuah bisnis start-up, visi
adalah hal pertama yang perlu diperhatikan, agar perusahaan mampu tumbuh dan
berkembang dengan besar.
2.
Kecepatan
Kecepatan merupakan salah satu hal yang
harus menjadi perhatian besar bagi sebuah bisnis start-up. Menyelesaikan
sesuatu dengan cara yang cepat adalah salah satu dari banyak alasan mengapa
start-up mampu mencapai tujuan dan visi mereka. Itu yang menjadi perbedaan
ketika start-up mampu untuk bergerak jauh dan lebih cepat dari para pesaing
mereka. Sebuah bisnis start-up yang sukses, tidak akan pernah menunda proses
untuk mendapatkan dan mengerjakan sesuatu.
3.
Anggaran
Sebuah bisnis tidak akan bisa dipisahkan
dari anggaran yang akan dibutuhkan dan digunakan. Sebuah start-up yang suskes
adalah start-up yang efisien dalam mengelola keuangan dan mampu menjaga
kestabilan keuangan mereka. Anda harus mampu memperhitungkan pemasukan dan
pengeluaran. Hal ini sangat penting untuk mengetahui apa yang dibutuhkan
perusahaan, dalam rangka untuk mencapai tujuan dengan anggaran yang sesuai.
Ketika sumber daya terbatas, dan waktu menjadi sebuah esensi, perusahaan perlu
menguasai keterampilan mengelola keuangan dengan baik.
4.
Keterampilan
Sosial Koneksi adalah alasan lain
mengapa sebuah bisnis start-up bisa mencapai kesuksesannya. Bagaimana bisa
sebuah bisnis baru mampu tampil dan dikenal banyak orang tanpa sebuah relasi? .
Sebuah start-up yang besar akan memiliki pemimpin yang luar biasa. Bukan hanya
mampu bekerja dan memimpin dengan baik perusahaannya, namun juga mampu membagi
waktu dengan berorganisasi. Salah satu alasan untuk berorganisasi adalah
mencari dan memiliki koneksi yang luas dan beragam. Hal ini akan sangat
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan start-up. Di sisi lain, para
pemimpin start-up perlu menginspirasi orang dan memberi mereka alasan untuk
mengikutinya melalui jalan tertentu.
5.
Disiplin
Disiplin memang hal yang harus dilakukan
dalam segala hal. Disiplin dimulai dari diri sendiri dan merupakan tonggak
menuju kesuksesan. Tanpa sebuah kedisiplinan, start-up tidak akan berhasil.
Disiplin dari dalam diri sendiri akan menumbuhkan etos kerja yang positif. Dari
situlah semua kreatifitas dan kesuksesan bisa dimunculkan. Hal ini penting
ditumbuhkan untuk menciptakan kesuksesan bersama.
6.
Tekad
Tekad yang kuat selalu diperlukan untuk
menuju kesuksesan. Sebuah start-up yang sukses, akan menekankan pentingnya penentuan
ketika membangun sebuah bisnis dan tidak pernah berhenti untuk mencoba,
terutama ketika menemui jalan berbatu dan dirasa sulit. Akan ada banyak
tantangan yang akan muncul, dan start-up membutuhkan tekad untuk mengatasi dan
menghadapi tantangan – tantangan tersebut.
7.
Kemampuan
beradaptasi terhadap perubahan
Perubahan dalam segala hal akan terus
bermunculan, salah satunya dibidang teknologi. Start-up yang baik akan selalu
sedia untuk beradaptasi dengan teknologi baru. Mampu Beradaptasi dengan
perubahan, akan membawa kita menemukan terobosan – terobosan baru untuk bisnis
kita. Untuk tahun – tahun pertama, sebuah bisnis start-up akan mengalami banyak
perubahan untuk bisa beradaptasi dengan situasi saat ini. Hingga mampu
menemukan rahasia yang membuatnya mampu bertahan dan mengembangkan prestasi
yang dimiliki.
8.
Keterampilan
dalam penggalangan dana
Arus pendanaan adalah garis darah sebuah
bisnis start-up. Ini berarti sebuah bisnis dapat saja berhenti dan hancur, jika
modal sudah tidak lagi memadai. Sebuah start-up yang sukses adalah mereka yang
memiliki modal cukup untuk menjalankan operasi bisnis mereka. Tugas utama dari
pemimpin start-up adalah untuk dapat meningkatkan modal yang dibutuhkan. Cara
yang baik untuk mengumpulkan uang salah satunya melalui online, yakni melalui
ekuitas atau melalui sebuah investasi khusus start-up, seperti di
rockthepost.com.
9.
Keyakinan
teguh
Keberhasilan setiap bisnis salah satu
faktornya adalah keberanian dalam mengambil dan menghadapi setiap resiko,
begitupula bagi sebuah start-up. Seperti yang banyak orang katakan, investasi
yang paling menguntungkan biasanya memerlukan sejumlah resiko yang tinggi.
Namun, keputusan tersebut harus memiliki konsep yang baik. Hal ini untuk
menghindari banyaknya resiko yang mungkin terjadi. Start-up harus memiliki
sebuah keyakinan terhadap kemampuan mereka untuk tumbuh dan berkembang dengan
baik, dan menghadapi resiko dengan baik pula.
10.
Management
waktu
Bagi sebuah bisnis start-up waktu adalah
hal yang sangat diperhatikan. Keberhasilan perusahaan bergantung pada produk- tivitas
dan efektivitas tim untuk melakukan lebih banyak hal dalam waktu yang minim.
Anda bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu, namun alangkah baiknya jika
Anda juga memperhatikan prioritas apa saja yang dibutuhkan untuk mengembangkan
bisnis start-up tersebut.
11.
Eksekusi
Dan yang terkahir adalah eksekusi.
Sebuah bisnis start-up tentunya memiliki banyak ide – ide yang kreatif. Sekitar
98% dari kesuksesan sebuah bisnis start-up adalah dari eksekusi ide yang ada.
Pengalaman dari tim sangat penting sebagai latar belakang mereka mengeksekusi
ide – ide yang bermunculan. Start-up yang sukses selalu mencari kesempatan
untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dengan ide – ide yang muncul, sekalipun
itu ide yang terbilang tidak mungkin untuk dilakukan. Mereka akan belajar dari
setiap kesalahan yang mereka lakukan dan memperbaikinya secepat mereka belajar
untuk mencapai kesuksesan.
Ciri-Ciri
Perusahaan Startup
1.
Budaya
perusahaan yang unik dan fleksibel.
2.
Jumlah
karyawan yang relatif sedikit.
3.
Usia
perusahaan masih belia, kemungkinan besar di bawah 4 tahun.
4.
Beroperasi
melalui platform digital.
5.
Mengutamakan
inovasi dan disruption.
6.
Test market
perusahaan cenderung kecil.
7.
Mengandalkan
dana dari para investor.
Perbedaan
Startup dan Usaha Kecil
1.
Inovasi
Salah satu perbedaan yang menonjol dari
perusahaan startup dan usaha kecil adalah dari segi inovasi produk atau
layanan.Bisnis kecil seperti salon dan kedai makan biasanya tidak membuat
keunikan yang menonjol, Saat kamu memulai usaha kecil, kamu hanya perlu
berpikir tentang apa yang kira-kira out of the box sehingga meningkatkan minat
para pelanggan. Sedangkan, inovasi sifatnya sangat penting dalam
keberlangsungan startup. Tugas mereka bukan sekadar inovasi, tetapi juga kreasi
tanpa batas. Keadaan seperti itu tentu membutuhkan inovasi yang canggih supaya
kamu dapat berkembang dan mendapatkan keuntungan.
2.
Pasar
Bisnis kecil biasanya hanya berfokus
kepada lingkaran pelanggan tertentu sehingga membatasi pertumbuhan
perusahaan.Berbeda dengan startup, perusahaan ini justru tidak membatasi
pertumbuhannya dan berfokus untuk mendapatkan sebanyak mungkin pasar yang ada
saat ini. Maka dari itu, kembali lagi ke poin pertama, inovasi menjadi hal yang
penting bagi startup untuk meningkatkan pasar dan memenangkan pertarungan
bisnis.
3.
Tingkat pertumbuhan
Perbedaan lainnya antara startup dan
bisnis kecil adalah dari tingkat pertumbuhannya.Usaha kecil sudah jelas harus
mematok pertumbuhan yang sangat cepat. Akan tetapi, prioritas bisnis kecil
hanyalah mendapatkan keuntungan.Ketika bisnis mendapatkan keuntungan, maka saat
itu tidak terlalu membutuhkan peningkatan performa demi meraih pertumbuhan yang
lebih lagi.Berbeda halnya dengan perusahaan rintisan yang harus selalu
mengalami pertumbuhan dengan ide-ide segar untuk menciptakan model bisnis yang
dapat direproduksi. Apabila tidak mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun,
dipastikan jenis perusahaan ini tidak akan bertahan lama.
4.
Keuntungan
Jika kamu membangun sebuah usaha kecil
maka hanya akan fokus pada keuntungan dari hari ke hari. Setelah itu,
keuntungan tersebut dapat dialokasikan untuk ekspansi bisnis dengan cara
membuka cabang. Berbeda halnya dengan startup, butuh beberapa bulan atau bahkan
tahun untuk mendapatkan keuntungan.Fokus utama dari perusahaan ini adalah untuk
membuat produk atau layanan jasa yang bagus dan canggih. Hal itu nantinya akan
disukai oleh calon konsumen.Apabila tujuan tersebut tercapai, bisa saja startup
akan langsung meraup keuntungan dengan jumlah yang sangat besar, bahkan bisa
sampai puluhan juta per harinya.
5.
Keuangan
Saat kamu hendak membuka usaha kecil,
kamu dapat memakai uang pribadi, meminjam keluarga, teman atau bahkan meminjam lewat
bank.Berbeda halnya dengan startup. Walaupun ada yang memakai uang pribadi,
meminjam ke keluarga ataupun teman, belakangan ini crowdfunding menjadi
fenomena yang populer.
Selain itu, seperti yang sudah
dijelaskan di atas, startup juga mendapatkan kucuran dana dari pemerintah lewat
program CPBT atau PPBT, melalui investor atau bahkan melalui venture capital.
Hal tersebut penting karena startup membutuhkan modal yang banyak guna
mengalami perkembangan yang pesat dari tahun ke tahun. Setelah itu, apabila
sudah meraup keuntungan besar, perusahaan itu tidak hanya akan balik modal,
melainkan mendapatkan keuntungan.
Perbedaan
Startup dan Perusahaan Konvensional
1.
Tujuan
Keuntungan
Salah satu perbedaanya utama adalah
starup berfokus pada pertumbuhan target pasar dan market yang tepat, sedangkan
konvensional berfoku pada mendapatkan profit. Karena perusahaan konvensional
cenderung lebih stabil
2.
Alur
Pendanaan
hal yang membedakan startup dari
perusahaan konvensional adalah alur pendanaan. Founder perusahaan rintisan
umumnya hanya mengeluarkan uang dengan harapan ada investor yang datang untuk
memberikan dana segar. Jika dipercaya investor, jenis perusahan ini dapat
menerima dana jutaan hingga miliaran dolar.Di sisi lain, perusahaan
konvensional pendanaannya berasal dari para pemilik perusahaan. Pendanaan ini
juga bisa berasal dari hasil keuntungan yang diputar kembali.
3.
Struktur
organisasi
Struktur organisasi menjadi aspek
lainnya yang membedakan perusahaan rintisan dan badan usaha konvensional. Semua
kegiatan operasional dan bisnis dari badan usaha rintisan umumnya ditentukan
oleh para founder dan pihak manajemen perusahaan. Meskipun menjadi penyalur
dana terbanyak, investor tak memiliki peran yang signifikan dalam keperluan
bisnis perusahaan rintisan. Mereka hanya terlibat pada keputusan-keputusan
strategis. Sementara itu, dalam perusahaan konvensional, jalannya bisnis
perusahaan sangat dipengaruhi oleh keputusan pemilik perusahaan. Bahkan, banyak
perusahaan yang pemberi modalnya bergabung dalam manajemen perusahaan. Hal
tersebut hampir tak pernah ditemukan pada perusahaan strartup.
4.
Life
cycle bisnis
Aspek terakhir yang membedakan startup
dengan perusahaan konvensional adalah life cycle bisnis mereka. Siklus hidup
dari kedua jenis perusahaan ini sangatlah berbeda. Sebuah perusahaan rintisan
bisa bernilai miliaran dolar dalam waktu kurang dari satu dekade keberadaannya.
Akan tetapi, hal ini takkan terjamin di masa-masa mendatang.
Di sisi lain, bisnis konvensional membutuhkan
waktu jauh lebih lama untuk mencapai angka tersebut. Namun, dikarenakan mereka
sudah lebih stabil, perusahaan konvensional dapat mempertahankan nilai valuasi
tinggi untuk waktu yang lama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar