HARD
WORK vs HEART WORK
Bekerja
keras adalah bagian dari fisik, bekerja cerdas merupakan bagian dari otak,
sedangkan bekerja ikhlas ialah bagian dari hati.
-Susi
Pudjiastuti
PENDAHULUAN
Manajemen
sumber daya manusia merupakan program, aktivitas untuk mendapatkan,
mengembangkan, memelihara dan menggunakan sumber daya manusia untuk mendukung
perusahaan mencapai tujuannya. Unsur manajemen sumber daya manusia adalah
manusia yang merupakan tenaga kerja pada organisasi atau perusahaan, manusia
selalu berperan aktif dan dominan dalam setiap kegiatan organisasi. Karena
manusia menjadi perencana, pelaku, dan penentu terwujudnya tujuan organisasi.
Tujuan tersebut tidak mungkin terwujud tanpa peran aktif karyawan. Peran
karyawan yang di butuhkan adalah sumber daya manusia yang berkualitas dan
kinerja karyawan yang selalu diperhatikan dan ditingkatkan salah satunya dengan
cara kerja keras untuk meningkatkan kinerja yang efektif, sehingga instansi
organisasi perusahaan sangat memperhatikan hal tersebut Namun, selain aktivitas
kerja karyawan dengan prinsip kerja keras/work hard, nyatanya akan menjadi hal
yang bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa jikalau didukung dengan hati
yang ikhlas atau bekerja dengan hati (heart work) yang tertanam pada jiwa
karyawan atau pemimpin perusahaan tersebut. Pada pembahasan ini, kita bisa
sedikit lebih mengetahui apa itu hard work dan heart work serta ciri dan
karakteristik dari masing-masingnya.
Hard Work / Kerja Keras
Pengertian
Kerja
keras adalah kegiatan yang dikerjakan secara sungguh-sungguh tanpa mengenal
lelah atau berhenti sebelum target kerja tercapai dan selalu mengutamakan atau
memperhatikan kepuasan hasil pada setiap kegiatan yang dilakukan. Kerja keras
dapat diartikan bekerja mempunyai sifat yang bersungguh-sungguh untuk mencapai
sasaran yang ingin dicapai. Bekerja keras sangat perlu dilakukan oleh setiap
manusia untuk menggapai keperluan, kebutuhan dan impiannya. Kerja keras adalah
kegiatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk mencapai target yang akan
dituju.
Kerja
keras merupakan salah satu cara yang dapat digunakan bilamana sesuatu hal ingin
di capai, kerja keras untuk ini itu, dan yang penting kerja keras dalam konteks
yang positif tidak serta merta bekerja keras untuk tujuan yang negative
(melakukan perbuatan melanggar hukum, merugikan hak asasi orang lain dan
merugikan lingkungan di sekitarnya). Semua makhluk hidup didunia butuh kerja
keras dengan tujuan yang positif sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
(Mirhan dan jusuf 2016).
Pengertian Kerja Keras dalam
Islam
Maksud
kerja keras dalam Islam adalah ikhtiar, yaitu bekerja dengan sungguh- sungguh,
sepenuh hati, jujur dan mencari rizki yang halal dengan cara yang halal pula,
yang demikian dpat dikategorikan perbuatan ibadah. Orang yang bekerja keras
dikelompokkan sebagai Mujtahid di jalan Allah. Islam mendorong manusia rajin
bekerja. Manusia merupakan ciptaan Allah yang sempurna, manusia diberikan tubuh
yang sempurna lengkap dengan indranya, serta kemampuan berfikir. Oleh sebab itu
sudah selayaknya umat islam memacu diri untuk berbuat yang terbaik dalam
hidupnya, yang bermanfaat di dunia dan bermakna di akhirat .Tanpa adanya kerja
keras, seseorang akan sulit mendapatkan apa yang dicita- citakan atau
ditujukan. Oleh karena itu, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk bekerja
keras dalam menggapainya. Dengan bekerja keras seseorang akan mudah meraih
cita-citanya. Sebaliknya jika seseorang hanya berpangku tangan dan
bermalas-malasan tidak akan mungkin cita-cita itu akan datang dengan
sendirinya. Allah Swt. berfirman: Artinya: “Kami telah membuat waktu siang
untuk mengusahakan kehidupan (bekerja).” (QS an-Naba’[78]:11)
Ciri-Ciri Pekerja Keras
1.
Pantang Menyerah
Seseorang yang pekerja
keras biasanya cenderung pantang menyerah untuk melakukan apapun dan berusaha
sekuat tenaga agar mencapai target impian. Sehingga, pekerja keras adalah
standar yang umumnya digunakan perusahaan dalam mencari pegawai, serta menjadi
nilai plus bagi seseorang yang memiliki karakter ini
2.
Memanfaatkan Waktu
Seorang pekerja keras
mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Sekali memiliki waktu luang,
pekerja keras akan memanfaatkannya untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum
selesai, dan tidak akan membuang-buang waktu hanya untuk bermalas-malasan.
3.
Ulet, tekun, rajin, disiplin, dan tidak
mengeluh
Karakter & Indiktor
Pekerja Keras
Karakter pekerja keras
dapat diindikasikan dengan:
1.
Menyelesaikan tugas dalam waktu yang
ditargetkan
2.
Menggunakan segala kemampuan/daya untuk
mencapai sasaran
3.
Berusaha mencapai berbagai alternatif
pemecahan ketika menemui hambatan.
Menurut Weber 1958 (dalam
El Hakiem 2017) Adapun beberapa indikator kerja keras adalah:
1. Perencanaan
2.
Program Kerja
3.
Prioritas yang Tinggi
Manfaat Bekerja Keras
Adapun dilihat dari sisi manfaat dari bekerja keras
adalah sebagai berikut:
1.
Kita bisa membantu mengembangkan potensi
diri
2.
Membentuk pribadi yang senantiasa selalu
bertanggung jawab
3.
Dapat meningkatkan taraf hidup dan juga
kesejahteraan
4.
Mampu mencukupi kebutuhan hidup
5.
Mampu mengangkat harga dan martabat hidup
Dampak Negatif Terlalu Keras
dalam Bekerja
Jika
seseorang terlalu keras dalam bekerja, seseorang bisa saja akan mengalami
kelelahan akibat terlalu over dalam bekerja. Fatalnya, jika seseorang yang
terlalu bekerja keras lalu mengalami kecanduan, maka seorang pekerja keras akan
beralih kepada kondisi kecanduan dalam bekerja, yang biasa dikenal dengan
istilah Workaholic.
Workaholic
adalah seseorang yang memiliki kebiasaan untuk terus bekerja tanpa mengenal
waktu dan kondisi. Bahkan seringkali mereka mengabaikan keluarga, kesehatan,
dan kehidupan sosialnya guna menyelesaikan pekerjaan.
Terlalu keras
bekerja bukan termasuk dalamciri pekerja keras, namun menjadi gerbang masuk ke
fase system kerjaworkaholic
1. Sistem kerja
workaholic bersifat negatif karena dilakukan terus-menerus. Sedangkan pekerja
keras memiliki etos kerja yang tinggi namun tetap memperhatikan diri sendiri.
2. Kualitas pekerjaan
pekerja keras lebih baik dibanding workaholic karena mereka cenderung teliti
dan punya cukup waktu istirahat.
3. Pekerja keras tetap
memiliki waktu libur, sedangkan workaholic tidak.
4. Ambisi workaholic
terlalu tinggi sehingga menimbulkan rasa stres jika gagal. Berbeda dengan
pekerja keras yang menjadikan kegagalan sebagai pembelajaran.
5. Pekerja keras
mengetahui waktu istirahat dan kapan bisa bersantai. Hal ini tidak dirasakan
workaholic karena mereka menghabiskan semua momen untuk bekerja.
Contoh: negara Jepang
Orang
Jepang menganggap bahwa hidup di dunia pada hakekatnya adalah untuk bekerja.
Dalam buku sosiologi Jepang Nihon wo Hanasou (1994:72) dijelaskan bahwa bekerja
keras bagi orang Jepang sudah ada sejak jaman feudal. Dalam buku “Hubungan
Manusia Dalam Perusahaan Jepang” karya Gene Gregory/1982, Disebutkan contoh
kehidupan sehari-hari yang dilakukan pekerja Jepang. Pada umumnya para pekerja
di Jepang mulai bekerja pukul 08:00 dan pulang pukul 17:00 sore, adapun
beberapa pegawai yang masih melanjutkan sisa pekerjaan (zangyo) dikantor,
kadang-kadang mereka bekerja hingga larut malam dan bahkan tidur di tempat
mereka bekerja. Dampak tersebut menyebabkan terjadinya Karoushi (過労死) atau kematian pekerja yang disebabkan
oleh stress dan kelelahan akibat kerja yang berlebihan.
Heart Work /Bekerja dengan
Hati/ Kerja Ikhlas
Pengertian
Makna
bekerja dengan hati disini adalah kerja ikhlas, atau bisa juga bekerja dengan
ikhlas tentunya melibatkan hati didalamnya. Secara harfiyah, ikhlas artinya
tulus dan bersih. Adapun menurut istilah, ikhlas ialah mengerjakan sesuatu
kebaikan melibatkan hati dengan semata-mata mengharap rida Allah SWT. Bagi
orang yang ikhlas, suatu perbuatan baik tidak harus dikaitkan dengan imbalan
atau balasan, melainkan semata-mata ingin mendapatkan rida Allah SWT. Jadi
meskipun tidak mendapat imbalan apa pun dan dari pihak mana pun, akan tetap
melakukan perbuatan baiknya tersebut
Menurut
ilmuwan independen dan penasihat kepemimpinan yang menekankan pada ilmu saraf
Robert K. Cooper, hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang paling dalam.
Mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir, menjadi sesuatu yang kita jalani.
Hati tahu hal-hal yang tidak, atau tidak dapat, diketahui oleh pikiran. Hati
adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitmen. Hati adalah
sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita belajar, menciptakan
kerja sama, memimpin dan melayani.
Ketika
kita bekerja dengan hati, kemauan kita akan lebih kuat. Pikiran kita akan
semakin tajam, sehingga akan lebih produktif dibanding bekerja tanpa hati.
Dorongan hatilah yang menggerakan pikiran, kemauan, dan tindakan kita
melakukannya.
Kerja dengan Hati Dalam Islam
Bekerja
dengan hati adalah sikap perbuatan terpuji yang harus dimiliki oleh setiap
muslim. Orang yang memiliki sikap perilaku ini tidak akan pernah merasa berat
dalam menjalankan setiap tugas dan pekerjaan. Sebab sikap jiwa yg ikhlas dapat
meringankan beban dan perasaan berat dalam mengerjakan suatu perbuatan. Suatu perbuatan
yang dilakukan tanpa keikhlasan, tidak akan mendatangkan kebaikan, baik bagi
pelakunya maupun bagi pihak lain yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut. Oleh
sebab itu, Allah SWT. menyeru kita untuk selalu ikhlas dalam bekerja, sebagai
salah bentuk ibadah kita kepada Allah SWT.
Sebagaimana
firman-Nya: Artinya; “Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al-Quran)
dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya.” (Q.S. Az-Zumar: 2-3).
"Padahal mereka
hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena
(menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat,
dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)". (QS Al Bayyinah: 5).
Ikhlas
dalam bekerja bukan berarti orang tersebut tidak membutuhkan uang dalam
hidupnya. Tetapi menomor satukan tujuan ibadah dalam setiap pekerjaannya dan
berserah diri kepada Allah Swt, Tuhan pencipta alam semesta sebagai penguasa
dan pengatur rezeki. Dengan keikhlasannya dalam bekerja, Ridho Allah Swt akan
dia dapatkan dan segala kebutuhan pun akan terpenuhi.
Hal
ini sesuai dengan jaminan Allah dalam firmanNya, "Tetapi hamba-hamba
Allah yang dibersihkan (bekerja dengan ikhlas). Mereka itu memperoleh rezki
yang tertentu, yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang
dimuliakan, di dalam syurga-syurga yang penuh kenikmatan". (Ash-Shaaffat:
40-43).
Sabda
Rasulullah SAW, "Barangsiapa yang tujuan utamanya meraih pahala
akhirat, niscaya Allah akan menjadikan kekayaan dalam kalbunya, menghimpunkan
baginya semua potensi yang dimilikinya, dan dunia akan datang sendiri kepadanya
seraya mengejarnya. Sebaliknya, barangsiapa yang tujuan utamanya meraih dunia,
niscaya Allah akan menjadikan kemiskinan berada di depan matanya, membuyarkan
semua potensi yang dimilikinya, dan dunia tidak akan datang sendiri kepadanya
kecuali menurut apa yang telah ditakdirkan untuknya". (H.R. At-Tirmidzi).
Orang yang bekerja dengan
hati akan memiliki nilai-nilai luhur berakhlak ikhlas dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:
1. Tidak berharap imbalan
apa pun kecuali rido Allah semata.
2. Mengerjakan sesuatu
atas kesadaran sendiri, tidak karena adanya paksaan atau tekanan dari pihak
lain.
3. Mengerjakan sesuatu
dengan sepenuh hati, tanpa ada rasa sungkan dan malas apalagi merendahkan atas
pekerjaannya tersebut.
4. Tidak girang ketika
dipuji, dan tidak benci ketika dicela dan dicaci.
5. Bersedia menerima
masukan, saran dan kritik dari orang atau pihak lain dengan senang hati.
Untuk menilai tingkat
keikhlasan yang dialami saat bekerja, menurut ulama ada tiga tingkatan ikhlas,
yaitu:
1.
Tingkatan bawah dari nilai ikhlas adalah
bekerja merupakan ibadah kepada Allah dan berniat mendapatkan kebaikan di
dunia. Sebagai contoh: beribadah kepada Allah untuk mendapatkan rizki di dunia
baik berupa kerja, uang atau kenaikan jabatan.
2.
Tingkatan menengah dari nilai ikhlas
adalah bekerja merupakan ibadah yang semata-mata mengharapkan pahala dan
surganya Allah SWT dan terhindar dari siksa neraka-Nya.
3.
Tingkatan tertinggi dari nilai ikhlas
adalah bekerja merupakan ibadah yang semata-mata mengharapkan ridho Allah SWT,
dengan berserah diri dan tawakkal kepada Allah SWT.
Ciri-Ciri Pekerja Ikhlas
1. Kapasitas
Besar
Seorang pekerja Ikhlas
dengan kejernihan hatinya akan berlapang dada menghadapi persoalan dan
pekerjaan seberat apa pun. paling tidak sikap lapang dadanya tersebut akan
membuat ia fokus dan melokalisasi persoalan, tanpa harus menambah persoalan
baru yang berasal dari emosinya. selain itu juga mereka akan lebih optimis
bahwa pekerjaan tersebut akan bisa mereka atasi. Seorang pekerja ikhlas selalu
memulai dari sikap nothing to lose terhadap aneka persoalan dan pekerjaan yang
dihadapinya. Mereka membawa dirinya dan persoalan serta pekerjaannya dengan perasaan
ringan, karena mereka tidak ikut memikul beban kekerdilan emosi dalam berbagai
bentuknya. Bahkan Kejernihaan hati mengatakan, bahwa tidak boleh ada ruang
kosong dalam dirinya. Jangan ada kesia-siaan dan kemubaziran. setelah selesai
yang satu mulai dengan yang lain secara ikhlas tanpa beban emosi. Akhirnya item
demi item dapat mereka tuntaskan dan akhirnya kapasitasnya terlatih menjadi
besar dengan sendirinya. Ketika pekerja keras tidak lagi sanggup memikul beban
pekerjaan yang sangat besar, seorang pekerja ikhlas mampu menembus semua
keterbatasan itu dan akhirnya menyelesaikannya dengan sempurna
2.
Kejernihan Pandangan
Seorang pekerja yang
ikhlas dengan kesucian hatinya dapat mempersepsi keadaan lebih jernih dan
kemudian dapat menyimpulkan lebih proporsional setiap masalah yang di
hadapinya. Sebenarnya keputusan yang salah, lahir karena ada penyakit hati
dalam dirinya.
3.
Keberuntungan Besar
Seorang pekerja ikhlas
dengan kejernihan hatinya akan terlihat hidupnya aman di manapun mereka berada.
Bahkan ketika berada di daerah rawan sekalipun. Mereka yakin bahwa dirinya
ikhlas, tidak membawa maksud buruk, dan tabungan eposnya akan menjaganya.
dikarenakan mereka bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan besar yang tidak bisa
dilakukan pekerja keras, maka wajar jika nilai kualitasnya di atas pekerja
keras
4.
Banyak memberi manfaat
Seorang pekerja ikhlas
dengan kejernihan hatinya akan memiliki banyak sisa energi untuk membantu orang
lain. Bahkan energi utamanya banyak mendatangkan manfaat bagi orang lain.
Mereka tidak pernah kerdil membantu pesaingnya, apalagi terhadap orang yang
menyayangi dan disayanginya. Mereka tidak pernah punya halangan untuk membantu
orang yang memusuhinya, karena sikap nothing to lose-nya berada di tingkatan
paling tinggi. Mereka akan sanggup bekerja sama dengan siapapun, bahkan
terhadap orang yang paling sulit sekalipun. Mereka adalah sumber kemuliaan.
bisa menjadi penengah terhadap dua orang yang berkonflik, karena dianggap tidak
memihak. Mampu menjadi kakak bagi anak buahnya. Bersedia melepaskan hak-haknya
untuk menolong orang lain. Banyak mengeluarkan hartanya untuk membantu
kesulitan orang lain, karena mereka berjarak dengan materi.
Sering kita temui
kondisi dan suasana kerja di lingkungan kantor, misalnya ada rekan kerja yang
kurang atau belum melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan etos kerja yang ada,
Jika
karyawan/pekerja didalamnya telah menanamkan dalam hati nurani, bahwa ia
bekerja dengan setulus hati dan hanya mengharapkan ridho Allah, maka dalam
kondisi dan suasana kerja apapun ia tidak akan mudah terbawa arus. Seorang yang
memiliki etos kerja professional akan memiliki penilaian bahwa kerja dan
pekerjaan itu adalah Rahmat Tuhan. Oleh karena itu rahmat, maka ia harus selalu
mencintai pekerjaannya, memiliki hati yang berlimpah syukur. Dengan syukur
tersebut maka ia tahu persis posisinya, pekerjaannya, dunia, dan Tuhan. Dengan
selalu bersyukur dalam mengerjakan tugas dan memberikan pelayanan kepada
pengguna jasa/stakeholder, maka ia akan selalu ikhlas, tidak ada rasa ingin
dipuji oleh orang lain baik teman satu kantor maupun atasan, dan ia harus yakin
bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan akan ada balasannya, karena niat dalam
melaksanakan pekerjaan semata-mata untuk mencari ridho Tuhan.
Di
zaman yang hampir semua diukur dengan materi, bekerja dengan hati menjadi
perkara yang sulit dilakukan. Umumnya orang bekerja untuk mendapatkan uang.
Jika pekerjaannya telah dihitung akan menghasilkan uang banyak, maka pekerjaan
itu akan dikerjakannya dengan sangat baik. Namun apabila pekerjaan itu dinilai
menghasilkan uang sedikit maka kerjanya asal-asalan saja. Bekerja dengan hati
berarti membersihkan tujuan bekerja sebagai ibadah kepada Allah SWT dari segala
noda yang mengotorinya. Memfokuskan diri bekerja sebagai ibadah hanya kepada
Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu ikhlas dalam bekerja agar dapat
dinilai sebagai amal shalih.
Bagaimana bekerja dengan
hati?
Pertama,
tetapkan tujuan dalam hati. Banyak tujuan yang bisa kita temukan ketika
bekerja, mungkin untuk mendapatkan uang, pengalaman, posisi atau gensi dan
beberapa tujuan lainnya. Namun dalam persaingan bisnis yang ketat dan di tengah
kesulitan akibat berbagai krisis, mereka yang bekerja digerakkan oleh
tujuan-tujuan mulia yang lahir dari hati nurani seringkali bertahan dan meraih
sukses.
Kedua,
temukan kepuasan dalam hati. Kepuasan finansial, kepuasan karir, dan
kepuasan-kepuasan lain yang bersifat fisik tidak akan ada habisnya, sehingga
seringkali membuat orang lupa diri dan terjerat dalam penyimpangan-penyimpangan
yang akhirnya menimbulkan persoalan besar. Pencarian kepuasan batin atau hati
akan menjaga seseorang melakukan cara-cara yang benar dan aman dalam bekerja
Ketiga,
bekerja dengan ketetapan hati yang teguh. Halangan dalam bekerja adalah kondisi
mental hati kita. Kurang antusias, kalah sebelum berperang, perasaan kurang
mood dan berbagai kondisi mental yang melemahkan lainnya akan menjadi
penghalang kesuksesan kita. Jika kita yakin terhadap motivasi hati yang bersih
dan yakin dengan tujuan-tujuan mulia. Maka, apapun halangannya akan dapat kita
atasi dengan ketetapan hati yang teguh. (Saleh, Muwafik, 2005. Bekerja dengan
hati nurani, Erlangga, Jakarta).
Keempat, bangun
tim dengan hati. Tidak ada orang yang bisa sukses maksimal dengan bekerja
sendirian. Bekerja sama dengan tim maka kita dapat mencapai hasil lebih
maksimal. Tim yang kuat, utuh solid dan kompak, hanya bisa diwujudkan melalui
hati satu sama lain.
Kelima,
bekerja dengan sepenuh hati. Apapun yang dikerjakan dengan sepenuh hati,
keseriusan, fokus, dan totalitas akan menghasilkan kualitas prima. Kesuksesan
selalu diraih oleh mereka yang bekerja dengan segenap hatinya.
Akhir….
Untuk itu, mari, bekerja
dengan hati yang ikhlas agar kita jadi bagian orang yang dicintai-Nya.
Ada pesan yang menarik
dari Imam Al-Ghazali
“Sesungguhnya semua
manusia merugi, kecuali mereka yang berilmu. Sesungguhnya semua manusia yang
berilmu merugi, kecuali mereka yang beramal. Sesungguhnya semua manusia yang
beramal merugi, kecuali mereka yang ikhlas. Tanpa rasa ikhlas, apa yang kita
kerjakan bagaikan debu yang hilang terembus angin, tak berbekas dan tak memberi
kebahagiaan. Karenanya, mari mengerjakannya dengan kesungguhan hati dan
mencintainya, agar kita bisa menerima apa yang kita kerjakan, jika belum dapat
dilakukan, mohonlah pertolongan sang pencipta agar dia membantu kita bekerja
dengan hati yang penuh rasa cinta.”